DistroMurahKu

Keranjang belanja kosong



Bandung Banyak akan tempat wisata, Selalu ada yang bisa dikunjungi di kota Bandung. Pada liburan kali ini saya memilih menelusuri Tangkuban Perahu, dari Kawah Ratu sampai menjelajah turun ke Kawah Domas. Menelusuri kota Bandung sekitar 20 km ke arah Utara, kita akan sampai di Taman Wisata Alam Tangkuban Perahu. Perjalanan ke sana melewati deretan pohon pinus pun sudah menyegarkan mata. Cuaca cerah dan langit biru menemani perjalanan kami hari ini.

Dengan membayar karcis masuk sebesar Rp 13.000 per orang dan Rp 10.000 untuk mobil, kami memasuki kawasan wisata menuju Kawah Ratu. Kawah Ratu hanya bisa dilihat dari atas, dan menjadi lokasi foto pertama bagi wisatawan. Menelusuri jalan lebih jauh, akan lebih banyak warung-warung menjual jajanan seperti ketan bakar, bandrek susu, dan gorengan penghangat perut. Selain itu banyak juga penjaja suvenir seperti topi anime, syal beraneka warna, angklung dll.

Puas berfoto di lokasi Kawah Ratu, saya mengunjungi pusat informasi yang tersedia. Kebetulan saya masuk bersama rombongan wisatawan Malaysia, sehingga kami bisa mendengarkan penjelasan guide tentang Tangkuban Perahu secara lengkap. Ternyata wisata Tangkuban Perahu menjadi lokasi wisata populer bagi turis Malaysia, Arab, dan Belanda. Sayangnya di situ selain diorama, contoh-contoh bebatuan, dan poster-poster yang terpasang di dindingnya, tidak disediakan fasilitas informasi lain seperti brosur dan peta lokasi untuk wisatawan.

Dari sana saya menuju Kawah Upas, yang disebut sebagai lokasi kawah paling indah. Menuju lokasi kawah, deretan kios yang menjajakan kaos suvenir Bandung dan Tangkuban Perahu menggoda mata. Belum lagi suvenir lain dan warung-warung yang menjual cemilan dan minuman penghangat tubuh. Ketan bakar, pisang goreng, bandrek susu, dan kopi akhirnya menjadi pengganjal perut di siang ini. Kemudian saya menuju Kawah Domas. Ternyata untuk menuju kawah, saya harus turun menelusuri hutan Rasamala dan pakis sejauh 1,2 km. Disana saya disambut tawaran untuk menggunakan guide sebagai penunjuk jalan. Perjalanan turun yang cukup terjal kami lalui, meskipun kami bisa beristirahan di beberapa shelter yang tersedia. Di sini anak-anak seperti praktik science, melihat dan menyentuh lumut yang tebal, bebatuan belerang, pakis beraneka ragam, sampai foto di pohon yang bolong dimakan rayap. Akhirnya setelah berjalan sekitar 1 jam, dengan berpeluh saya tiba di Kawah Domas. Kawah ini merupakan satu-satunya kawah yang aman dituruni, dan dimanfaatkan untuk merendam kaki di air panas yang mengandung belerang. Banyak kolam-kolam air panas yang tersebar di sini, yang ternyata berbeda-beda suhu panasnya dari yang hanya hangat sampai yang mendidih dan bisa untuk merebus telor. Lumpur yang ada di sana juga dikatakan baik untuk kesehatan kulit. Puas merendam kaki, saya pun harus bergerak berjalan pulang. Guide yang menemani menunjukkan jalan yang tidak securam jalan datang, tetapi juga berjarak 1,1 km menuju Parkiran Domas. Panas terik dan dehidrasi ternyata cukup menyebabkan pening, terutama bagi penderita darah rendah seperti aku. Setelah terpaksa berhenti beberapa kali mengumpulkan tenaga meneruskan jalan, akhirnya saya sampai di perhentian ojek yang dapat mengantarkan kami sampai Parkiran Domas. Parkiran Domas ternyata berada di bawah, yang artinya saya masih harus menempuh perjalanan naik menuju Parkiran Ratu di atas yang mula-mula kami datangi. Angkutan yang tersedia adalah angkot dengan biaya Rp 5000 per orang (tapi harus menunggu penuh baru jalan), atau bisa juga dengan sistem charter seharga Rp 50.000. Mengingat tenaga yang sudah habis dan perut lapar di tengah hari ini, maka kami sekeluarga memilih charter menuju Parkiran Ratu.

Perjalanan liburan kami di Tangkuban Perahu berakhir di sini. Melihat keindahan alam dan kawah merupakan pengalaman baru bagi saya. Letih dan lemas berjalan menuju dan kembali dari Kawah Domas menjadi kisah yang akan selalu diingat.

 

Sumber: https://travel.detik.com

Subscribe Us

Berlangganan newsletter dari kami


Social Media