DistroMurahKu

Keranjang belanja kosong

Mengendarai sepeda motor di jalanan yang padat memang lebih praktis dan bisa menghemat waktu. Namun, para pengendara sepeda motor (bikers) mesti mewaspadai risiko kecelakaan dan penyakit sehingga bisa mencegahnya.

Kepala adalah aset sangat berharga pada tubuh kita. Tanpa helm yang memadai, naik sepeda motor rentan menyebabkan kecelakaan pada kepala. Kecelakaan yang menimpa kepala tentu saja sangat berbahaya. Mungkin saja benturan pada kepala ini bisa menimbulkan komplikasi, seperti kehilangan fungsi motorik atau menurunnya fungsi kognitif. Oleh karena itu, meskipun hanya naik sepeda motor dalam jarak dekat, helm tetap diperlukan.

Tanpa perlindungan helm yang memadai membuat biker rentan terkena tinitus. Ini adalah gangguan berupa telinga berdenging. Peneliti membuktikan, tinitus ini bisa terjadi pada orang-orang yang mengendarai sepeda motor dalam jarak jauh dan terus-menerus tanpa pelindung yang memadai. Jika tak diatasi, pengendara motor bisa merasa tidak nyaman dan frustrasi karena telinga terus berdenging. Mereka bisa kehilangan pendengaran.

Menempuh perjalanan jauh dengan sepeda motor juga rentan nyeri kronis atau kram di pinggul, punggung, lutut, dan bahu. Caranya bisa dengan berjalan-jalan sejenak atau memutar bahu ke depan dan ke belakang.

Terlalu banyak terpapar angin kencang tanpa dilindungi jaket memadai dengan mudah membuat tubuh jadi tidak fit. Padahal, berkendara sepeda motor yang aman butuh tubuh fit dan konsentrasi baik. Oleh karena itu, selain helm, tubuh juga wajib dilindungi dengan sarung tangan dan jaket tebal. "Itu karena tubuh kita tidak akan kuat terpaan angin kencang saat melaju sepeda motor. Apalagi naik motor jarak jauh, pasti ada pengaruh gangguan kesehatan ke tubuh kita jika tidak pakai jaket tebal," kata Bambang Wispriono, Ph.D, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.

Risiko selanjutnya yang mengincar biker adalah paparan polusi. "Para biker yang setiap hari pergi pulang jarak jauh seperti Bekasi-Jakarta rentan terpapar partikel kimia hasil buangan kendaraan bermotor," ungkap ahli toksikologi lingkungan ini. Udara kota-kota besar penuh dengan gas buangan yang berbahaya untuk kesehatan. Termasuk di antaranya S02, N02, dan C02. Paparan gas buangan itu, jika berlebihan, menurut Bambang, bisa memberi efek pusing, kekurangan oksigen, dan mual.

Dalam jangka panjang, paparan gas buangan itu dalam konsentrasi tinggi bisa bersifat karsinogenik alias menimbulkan kanker. "Itu karena itu, selain biker, polisi lalu lintas dan petugas DLLAJR yang lama berada di tepi jalan raya harus melindungi saluran napasnya dengan baik. Mereka harus memakai masker yang memadai," imbuhnya.

Tingkat polusi di Jakarta dan sekitarnya tidak boleh dipandang remeh. Sebab, menurut Bambang, tingkat polusinya sudah lebih hebat dibandingkan dengan negara India dan negara cina. Polusi yang parah ini harusnya dikurangi dengan regulasi yang benar. "Misalnya dengan pengaturan kendaraan bermotor agar usianya tidak lebih dari lima tahun. Kendaraan yang berumur di atas lima tahun, apalagi yang tidak terawat dengan baik, mengeluarkan gas emisi yang jauh lebih berbahaya terhadap kesehatan," katanya.

Hal yang terjadi saat ini adalah jumlah kendaraan bermotor semakin banyak dan segala jenis kendaraan yang diproduksi dalam berbagai tahun memenuhi jalan raya dengan leluasa. Oleh karena itu, pengguna jalan raya wajib meningkatkan daya tahan tubuhnya. 


sumber: http://health.kompas.com


 

Subscribe Us

Berlangganan newsletter dari kami


Social Media